Rabu, 24 Desember 2008

Senggigi Itu Ternyata....



Aku berpose di Gerbang Senggigi Beach Hotel
Senggigi - Lombok - Nusa Tenggara Barat












Foto Atas dari kiri ke kanan
Bersama Edou (Depok), Hamdan (Mataram), Saya, Awil (Ambon), Zulman (Ciputat), Yamin (Bogor) dan yang duduk Masyhur (Sumbawa)

Foto Bawah dari kiri ke kanan
Syaukani (Mataram), Edou (Depok), Saya (Berkacamata), Arif (Cilegon), dan Bebenk (Sala Tiga)






Jumat, 19 Desember 2008

Mataram, Cidomo, Nasi Balap dan Masakan Padang

Aku ke Mataram berangkat menggunakan maskapai Lion "Delay" Air- Julukanku untuk penyedia jasa penerbangan yang sering menunda jadwal ternbangnya ini. Mestinya pukul 19.15 WIB Aku sudah terbang dari Cengkareng ke Bandara Ampenan Mataram. Tapi karena tabiatnya itu akhirnya baru berangkat pukul 21.00 WIB.
Huuuh..setelah tertidur pulas di pesawat sepanjang peenerbangan, aku terbangun oleh suara pramugari yang mengumumkan bahwa dalam waktu dekat pesawat akan mendarat di Ampenan. Tepat pukul 22.30 WIB atau 23.30 WITA aku menghirup udara Mataram dan langsung menuju penginapan tempat aku ikut pelatihan. Di bandara telah ada panitia acara yang menunggu ku. Teman yang memang sudah ku kenal sejak 2004 lalu.Di Blitar, Jawa Timur.
Kesanku terhdap Mataram sampai hari ini, Jum'at 19 Desember 2008, biasa saja. Belum ada yang terlalu berkesan. Indah tidak, bersih tidak dan rada sembraut. Apa karena aku belum sempat melihat Mataram dari "Dimensi" lain ya?
Beberapa kali saat agenda pelatihan tidak padat aku menyempatkan diri untuk menelusuri kota, menggunakan "Cidomo". Sebutan orang Mataram untuk Dokar/Bendi/Delman..Kendaraan macam ini cukup banyak jumlahnya disini. Karenanya di sepanjang jalan kota berserakan kotoran Kuda. Bau..
Ada yang membuat perutku "gelisah" selama di sisni. Masalah makanan. Saban hari aku disuguhkan panitia menu Nasi Balap. Nasi yang dibungkus seperti kerucut dengan lauk pauk khas Mataram. Kadang ada campuran irisan daging ayam, kacang dan mie. Kadang dicampur adukkan telur, nenas dan cabe...ya, begitulah. Perutku gusar. Tidak sesuai dengan selera Minang ku. Untuk itu aku coba menanyakan ke orang-orang di mana Rumah Makan Padang terdekat dari lokasi. Aku temukan. Aku makan kenyang. Dan penglihatan mata ku yang mulai berkunang-kunang mulai stabil kembali.
Setelah selesai acara ini ada saru tempat yang ingin aku kunjungi. Pantai Senggigih...katanya eksotis...

Mataram, 19 Desember 2008

Sabtu, 13 Desember 2008

An Roy's, SBY dan Atrium

Hari ini, Sabtu 13 Desember 2008 saya mulai dengan pagi yang sibuk dari biasanya. Maklum saya mau bepergian lumayan jauh. Ke Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tapi nginap dulu agak semalam di Jakarta. Ada janji juga dengan beberapa orang teman dan sodara di Jakarta.
Dengan se-Tas barang bawaan saya berangkat ke Bandara Internasional Minangkabau make jasa Tranex Mandiri. Angkutan pelat kuning dari dan ke Bandara di Padang. Sepi juga penumpang pagi tadi. Paling lima atau enam orang.
Diperjalanan naik seorang penumpang yang wajahnya cukup akrab bagiku sehingga memaksaku melirik ulang ke penumpang yang barusan naik. Ow, tenyata An Roy's' salah satu pelantun lokal kesukaan ku. Si "Bungo Ilalang" duduk persis di depanku. Dalam fikirku cuma bergumam, ooo, ternyata ini orangnya. Yang menjadi penilaian ku, perasaan dia kelihatan tambah muda dibanding terakhir bertemu sekitar 8 Tahun silam.
Setiba di Bandara mata kami sama-sama tertuju pada barisan pelajar berseragam putih dan bejibun pasukan pengamanan yang siap siaga. Aku baru ingat bahwa hari ini SBY berkunjung ke Ranah Minang.
Setelah turun mobil saya dan An Roy's sama-sama berbarengan menyaksikan kedatangan RI 1 itu. Presiden turun melambaikan tangan dan aku hanya berkata dalam hati, andai aku jadi Presiden...hehehe.
Jam 11 aku dah sampe di Jakarta. Setelah istirahat sejenak aku jalan-jalan dulu ke Atrium. Maksud utama ku adalah membeli Tetralogi terakhir Laskar Pelang : Maryamah Karpov. Di lantai empat Atrium aku dikejutkan oleh senyum menyapa seorang teman lamaku. Johan. Aku sedikit terkejut karena terakhir bertemu Johan begitu akrab dengan jenggot dan baju kokonya. Sekarang begitu "gaul" dan trendi dengan setelan celana pensil-kemeja skater..Huuh, Johan sudah kembali menjadi Johan setelah sempat menjadi Iqbal..
Hmmmmmm...
Aku sign out dulu...

Atrium Senen..

Jumat, 21 November 2008

Dua Hari Bersama Aci, Nando dan Si "Ayah"..

Pal, bisa kita ketemu sore ini. Abang tunggu di Hotel Padang Jam 4 ya..Tq. Begitulah kurang lebih isi pesan singkat yang dikirim Da Andi Mastian untuk ku. Jam 14.00 hari Selasa 18 November lalu. Ok Da Andi, balas ku. Telat sepuluh menit, jam 4.10 menit saya tiba di Hotel itu.
Ternyata Da Andi mengajak saya bergabung di EO-nya untuk bantu-bantu Acara dengan Dirjen Pajak. Ya, Tentu aku setuju..
Melalui saya Da Andi minta dicarikan tenaga tambahan sekitar 6-8 orang lagi. 4 orang harus perempuan. Dari HMI Komisariat Ekonomilah, pinta Da Andi. Singkat crita Aci, Ade', Alev dan Gita Saya ajak, dan mereka setuju. Yang laki-laki bergabung juga Nando, Irhas, Zainal "Ayah" dan beberapa relawan lainnya...(Bersambung ya..ada panggilan neh..)

Menang Tapi Kalah

Minggu, 16 November lalu atas masukan teman-teman saya ikut Konvensi untuk memilih kandidat Ketua Umum Badko HMI Sumbar periode 2008-2010 dari HMI Cabang Padang. Ada 3 kandidat yang berpartisipasi pada kegiatan tersebut. Saya, Mevrizal dan Fitra Yandi. Setelah Bedah Visi-Misi kami, tiga orang Kandidat keluar dan bubar, karena Pengurus akan melakukan rapat harian untuk memilih satu diantara kami.
Dalam rapat tersebut musyawarah mentok, sehingga keputusan diambil dengan metode terakhir, Voting. Hasilnya Saya dapat 9 dukungan, Mevrizal 8, Fitra Yandi 2 dan satu pengurus Abstain. Anehnya, justeru yang direkomendasikan adalah Mevrizal. Si Suara Delapan..

Sabtu, 15 November 2008

Laskar Pelangi, Millia dan Jebakan Perasaan Ku

Aku bingung, kenapa akhir-akhir ini benteng pertahanan hatiku begitu rapuh..Cukup lama, bahkan bertahun aku menjaga dan menatanya. Ada alasan mengapa aku begitu sayang dengan hatiku..karena Aku yakin bahwa hati adalah stabilisator spirit kehidupanku, sehingga kalau hati bermasalah, maka gaduh pula semangatku meraungi hidup.
Memang dalam hidup, sebagai manusia aku punya Logika dan Hati. Logika berfungsi untuk menalar mana yang benar dan mana yang irasional menurut ku. Hal ini terkait atas berbagai hal yang berhubungan dengan berbagai varian keputusan hidup yang mesti diambil. Sementara Hati berguna untuk memilih mana yang disukai dan dibenci, mana yang disayangi-dicinta dan semacam itu lah..Nah menariknya kadang pilihan-pilihan keputusan hati itu justeru berlainan kutub dengan Logika..
Kini aku mengalami dilema itu..Aku yang biasanya begitu kokoh dengan Hatiku, rapuh sekejab karna Laskar Pelangi dan Millia..Bukan berarti selama ini tidak ada "Millia-Millia" yang dekat dengan ku..tapi yang satu ini kok..Beda..
Benarkah aku tengah terjebak oleh perasaanku sendiri..atau memang sudah saatnya pula "Batu Karang" itu terkikis.. Aku nggak tau juga..Menurutku sekarang biarlah "dia" mengalir kemana maunya..kemana "dia" suka..
Jadi aku tak usah repot-repot menetralisir perasaan ku seperti semula sebelum "kena". Seperti saran dalam pesan singkatnya : Yg pntg, jlni aj apa adanya...
Ya, betul, itu jalan tengahnya..Aku setuju..