Sabtu, 15 November 2008

Laskar Pelangi, Millia dan Jebakan Perasaan Ku

Aku bingung, kenapa akhir-akhir ini benteng pertahanan hatiku begitu rapuh..Cukup lama, bahkan bertahun aku menjaga dan menatanya. Ada alasan mengapa aku begitu sayang dengan hatiku..karena Aku yakin bahwa hati adalah stabilisator spirit kehidupanku, sehingga kalau hati bermasalah, maka gaduh pula semangatku meraungi hidup.
Memang dalam hidup, sebagai manusia aku punya Logika dan Hati. Logika berfungsi untuk menalar mana yang benar dan mana yang irasional menurut ku. Hal ini terkait atas berbagai hal yang berhubungan dengan berbagai varian keputusan hidup yang mesti diambil. Sementara Hati berguna untuk memilih mana yang disukai dan dibenci, mana yang disayangi-dicinta dan semacam itu lah..Nah menariknya kadang pilihan-pilihan keputusan hati itu justeru berlainan kutub dengan Logika..
Kini aku mengalami dilema itu..Aku yang biasanya begitu kokoh dengan Hatiku, rapuh sekejab karna Laskar Pelangi dan Millia..Bukan berarti selama ini tidak ada "Millia-Millia" yang dekat dengan ku..tapi yang satu ini kok..Beda..
Benarkah aku tengah terjebak oleh perasaanku sendiri..atau memang sudah saatnya pula "Batu Karang" itu terkikis.. Aku nggak tau juga..Menurutku sekarang biarlah "dia" mengalir kemana maunya..kemana "dia" suka..
Jadi aku tak usah repot-repot menetralisir perasaan ku seperti semula sebelum "kena". Seperti saran dalam pesan singkatnya : Yg pntg, jlni aj apa adanya...
Ya, betul, itu jalan tengahnya..Aku setuju..


Jumat, 07 November 2008

For My Mom..


Hujan lebat sekali malam ini. Deru jejatuhannya membangunkan aku dari tidur lelapku. Disertai badai pula lagi. Padahal siang tadi cerah-cerah saja. Ya… begitulah cuaca akhir-akhir ini Bu, susah ditebak. Siang panas sepanas-panasnya, malam tiba-tiba hujan selebat-lebat antah. Barangkali disebabkan “global warming” ya, seperti yang menjadi bahasan banyak orang belakangan ini.
Bu, tak berasa sebelas tahun sudah kita tidak bertemu. Sejak 1997. Hari Sabtu tanggal 6 Juli. Waktu aku masih kelas 2 SMP. Tentu sudah banyak peristiwa terjadi di sana yang aku tidak tau, dan juga di sini dimana Ibu juga tidak mengetahuinya. Ibu menyimpan banyak cerita dan akupun punya berbagai kisah. Bermacamlah Bu, ada yang lucu menggelikan, terkadang aneh mengherankan, serta ada pula yang sedih mengharukan.
Eh iya, maaf baru menyurati Ibu sekarang, karena baru dapat alamat ibu kemaren. Ibu mah tidak pernah mau ngasih tau ke aku dimana Ibu tinggal, apalagi mengabari tentang keadaan Ibu. Entah senang bahagia disana atau malah Ibu sakit kepanasan. Entah aku bisa berbagi suka atau justeru mesti membantu meringankan penderitaan Ibu. Aku tak tau.
Wah, bahagia sekali rasanya sekarang aku bisa berkirim kabar. Sudah lama tawa tertahan untuk berbagi kelucuan. Telah lama pula isak kubendung untuk berbagi kesedihan.
Ibu bagaimana kabarnya, adakah baik-baik saja?. Kalau aku, anak bujang Ibu ini , alhamdulilah sehat dan baik-baik selalu. Begitu juga dengan Ayah, Kakak dan Adik-adik yang Ibu tinggalkan saat mereka masih sangat butuh belai kasih Ibu.
Aku sekarang 26 tahun. Masih kuliah strata-2. Seperti pesan Ibu kepada kami, selagi masih muda dan mampu teruslah bersekolah. Nantilah berfikir menikah dan menjadi kaya. Tidak seperti kekayaan dan wanita, ilmu lebih setia menemani hidup kita. Ilmu lebih sabar dari wanita penyabar. Ilmu lebih mahal dari harta segudang. Wanita bisa larut digelimangi harta, harta akan hilang ditelan bencana, tetapi tidak dengan ilmu. Tapi aku kan sudah 26 tahun. Tentu tidak mau pula aku dibilang “bujang lapuak” oleh orang-orang.
Soal perempuan Bu, sampai sekarang aku belum punya calon menantu Ibu. Hehehe..Kadang malu juga aku dengan diriku. Soal tampang, anak bujang Ibu ini sepertinya tidak jelek-jelek amat. Aku juga orang baik-baik. Tidak seperti kebanyakan orang muda sekarang, aku tidak sama sekali pernah menyentuh narkoba, tidak pula nakal dan suka bikin onar, apalagi bergaul bebas.
Baru-baru ini ada sih gadis yang membuat jantung si bujangmu ini berdetak kencang. Paras dan perawakannya bolehlah menurut penilaianku. Kulit putih kemerahan, berjilbab dan yang menjadi daya tarik dari dia adalah bentuk kombinasi mata, bulu mata dan alisnya yang indah. Cantik sekali. Kalau Ibu kukenalkan dengannya, pasti Ibu memuji pilihanku. Tapi aneh Bu, sama seperti mengejar gunung, semakin aku mendekati dia, semakin dia terasa menjauh. Semakin aku ingin mengenali dia, terasa dia semakin menutup diri. Akhirnya, patah pulalah semangatku mengejar-ngejar dia.
Aku tidak tau pasti kenapa bisa seperti itu. Bisa jadi karena caraku kurang halus dan tidak mengena. Memang sepeninggal Ibu, aku tidak punya wanita sebagai tempat curhat. Sehingga aku kurang tau bagaimana menaklukkan perasaan halus seorang perempuan. Coba kalau ada Ibu, tentu aku akan dapat banyak pelajaran tentang semua itu. Tentu banyak sudah perempuan yang mampu aku pikat. Hahaha.. Kata Ibukan kalau ingin menyenangkan perempuan, senangkan dulu hatinya.
Bu, sekarang sudah banyak perubahan di keluarga kita Ibu sudah punya tiga menantu dengan dua orang cucu. Uda Wendy dapat isteri orang bayang. Uni Nove nama kerennya. Aslinya dia bernama Nurmita Yenti. Sejauh ini beliau mampu mengambil sebagian peran Ibu dalam keluarga kita. Beberapa bulan yang lalu ketika pernikahan Unang dengan Uda Naldi, beliaulah yang paling banyak membantu. Mulai dari persoalan konsumsi, perlengkapan penganten sampai semua tetek bengek pesta beliau yang mengatur. Semuanya beres pokoknya ditangani oleh wanita tangguh ini. Dari beliau lahirlah cucu Ibu yang lucu. Tata dan Cili. Kalau si sulung Tata, orangnya periang tapi suka sakitan. Agak manja memang. Tapi kalau yang bungsu, Cili, sangat berwibawa, pendiam dan suka rewel. Tata berumur 4 tahunan, sedangkan Cili sekitar 1 tahun lebih. Cili itu namanya aku yang ngasih. Halbicya Winny Primauli nama lengkapnya. Halbicya berarti pohon penyejuk, halbi, yang tumbuh di tepi pantai, Winny bermakna kemenangan dan Primauli artinya adalah sebelum maulid nabi. Hebat bukan nama yang aku beri Bu?
Kalau Si Kakak istrinya dah hamil pula. Mira namanya..Teman sekolah kakak saat SMA dulu.
Bu, Ayah sampai sekarang masih sendiri. Belum atau bahkan tidak mau lagi mencari pengganti Ibu. Aku tidak tau persis alasannya kenapa. Sebab kalau difikir-fikir kan sah-sah saja Ayah mencari pengganti Ibu, karena Ibu pasti tak akan pernah kembali lagi ke kehidupan kami. Apasih perjanjian yang Ayah dan Ibu ikrarkan sehingga hati Ayah membatu seperti itu? Ayah telah selesai pula S-2nya. Sekarang selain sebagai Kepala Sekolah, beliau juga diminta mengajar di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Solok. Kerenkan Bu?. Coba Ibu masih di sini, pasti Ibu bangga sekali dengan suami Ibu. Sudah gagah, taat beribadah, penyabar dan berpendidikan lagi. Kelak kalau sudah berkeluarga, Ayah merupakan referensi utama aku. Aku ingin jadi suami seperti Ayah.
Ibuku sayang, bersama aku di Padang sekarang ada juga Jul dan Mila. Si Jul hampir selesai kuliahnya di Ilmu Fisika. Sedangkan Mila, anak gadis , sekarang sudah kuliah pula di ilmu keguruan. Pengen jadi guru juga katanya seperti Ibu.
Si Bungsu Ibu, Iim, yang dulu Ibu tinggalkan ketika masih kecil, saat dimana anak seumurnya masih dimandikan dan disuapkan makannya, sekarang sudah kelas dua SMA. Sudah jadi bujang gagah pula. Iim tinggal bersama Uda Wendi di Painan.
Bu, entah mengapa beberapa hari ini wajahmu sering muncul di penglihatanku. Mungkin karena aku terlalu kangen denganmu. Atau Ibu masih marah kepada aku, sebab di detik-detik kepergiannmu aku tak ikut melepas dan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan yang Ibu pilih. Sekali lagi aku mohon maaf. Aku kan tidak sengaja. Salah Ibu jugakan kenapa gak bilang-bilang ke aku kalau Ibu mau berangkat. Padahal siangnya aku kan masih becanda tawa bersama Ibu. Trus Ibu juga kan yang menyuruh aku pergi mengantarkan titipan Ibu. Sudahlah Bu, aku gak mau ribut lagi tentang masalah ini dengan Ibu. Nanti dianggap durhaka pula aku.
Sudah dulu ya Bu. Hampir subuh. Besok ada kuliah. Di ujung suratku ini aku hanya berharap kelak bisa bertemu dan bersama Ibu lagi. Kalau Ibu mau menerimaku, aku akan tinggal lagi bersama Ibu. Di surga. Sehingga saat malam tiba aku dapat tidur di sebelah Ibu. Kalau Ibu haus aku yang mengambilkan minum. Kalau Ibu lapar aku yang akan membuatkan makanan permintaan Ibu. Kalau Ibu kepanasan dengan senang hati aku pula yang akan mengipasi Ibu dengan kain panjang. Dan, jika aku sedih, Ibulah yang aku harapkan menghapus derai air mataku..Anak kesayanganmu

Minggu, 26 Oktober 2008

Tentang Berita Duka Seorang Sahabat

Kemaren sampai kabar ke telinga ku tentang kepergian Ibu seorang sahabat. Berlinang juga air mataku, satu karena Ibunya terbilang sebagai Ibuku juga, dua karena peristiwa itu mengingatkan akan kepergian Bundaku sebelas tahun silam...tiga, semakin memilukan hati karena hari wafat beliau persis dua minggu setelah pernikahan temanku, Yardi.
Kawan, inilah bagian keperihan hidup yang mesti kau hadapi, dibalik canda tawa yang kau punya. Berbalut ketabahan dan kekuatan hati, aku yakin kau sanggup menjalaninya. Memang, kita akan merasa sangat kehilangan karena pernah merasa memilikinya.
Yar, kau beruntung karena sempat menghantar beliau pergi, sempat memapah beliau mengucap kata taubat dan bisa mencium keningnya untuk terakhir kali. Itu cukup bagi beliau sebagai pengobat iba di rimba lara. Kau diberi kesempatan untuk melakukan semua yang aku tidak dapatkan ketika Bundaku pergi.
Sobat, kebahagian orang menghantar itu adalah saat melepas kepergiannya..
Selamat jalan Etek, maaf aku tak sempat melayatmu.





Senin, 08 September 2008

Opini

Iklan Politik
(Antara Promosi dan Kamuflase Politik)
Pembaca mungkin masih ingat dengan iklan produk rokok Long Beach yang sempat saban hari menghiasi layar kaca kita beberapa tahun silam. Dalam iklan tersebut digambarkan seorang pria seakan-akan tengah melayang di “surga” menikmati pijitan perempuan cantik di hamparan pasir putih yang indah. Iklan tersebut semakin sempurna dengan dukungan jingle yang terdengar pas di telinga. Melalui kemasan iklan seperti itu, produsen berpesan kepada calon konsumennya bahwa dengan mengkonsumsi Long Beach, para perokok akan mendapatkan kenikmatan luar biasa.
Contoh lain yang masih segar dalam imajinasi kita adalah iklan rokok Mezzo, produk grup Djarum. Di iklan itu kita menyaksikan sepasang manusia berseragam putih terbang berlarian melompati lobang (hambatan-rintangan) keriangan. Pesan yang dapat diambil dari iklan tersebut adalah bahwa dengan menghisap rokok Mezzo konsumen akan merasa bebas. Bebas dari kesulitan dan rintangan. Bebas dari berbagai masalah dan persoalan.
Memang, Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran. Dengan cara itu produsen mencoba memperkenalkan profil produknya ke masyarakat. Melalui iklan idealnya disampaikan bagaimana postur dan nilai produk yang akan didapat konsumen.
Komunikasi pemasaran juga salah satu dimensi dalam membangun citra merek produk, bahkan citra perusahaan. Citra yang baik mendorong terbentuknya kepercayaan masyarakat untuk menggunakan produk tertentu. Kalau sudah berhasil merebut hati masyarakat, logikanya akan berdampak terhadap peningkatan angka penjualan dan kalkulasi rupiah yang diperoleh.
Akan tetapi laba tentu bukanlah tujuan akhir perusahaan. Yang diharapkan perusahaan adalah loyalitas konsumen. Loyalitas akan didapat bilamana harapan konsumen terpenuhi. Untuk itu perlu keselarasan antara citra yang dibangun dengan kualitas produk yang ditawarkan.
Pertanyaannya, efektifkah iklan produk rokok Long Beach dan Mezzo meraup kepercayaan konsumen?. Hasil amatan penulis dan mungkin amatan kita semua, kedua merek rokok diatas ternyata gagal di pasaran. Apa kira-kira faktor penyebab kegagalannya ?.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, iklan memberikan kontribusi bagi terbentuknya citra merek (Brand Image). Citra merek merupakan persepsi baik-buruk masyarakat atas produk tertentu. Pada kasus Long Beach dan Mezzo, penulis berpendapat terdapat jurang (gap) antara citra yang dibangun melalui iklan dengan nilai produk yang didapat konsumen. Akibatnya konsumen kecewa dan produk gagal berkembang di pasar.
Dalam tulisan berjudul Marketing Politik yang dimuat Harian Singgalang tanggal 16 April lalu, penulis menyampaikan bahwa dewasa ini ilmu marketing kian diperlukan dalam komunikasi politik sebagai metoda pengenalan produk politik kepada masyarakat. Roh dari marketing politik adalah upaya pembentukan citra produk politik guna mendapatkan kepercayaan publik. Kepercayaan publik lahir apabila ada keselarasan antara citra produk politik yang dibangun melalui marketing politik dengan tingkat kepuasan masyarakat atas produk politik yang ditawarkan.
Menjelang pemilihan umum 2009 tahun depan, aktivitas marketing politik semakin marak saja kita saksikan. Di berbagai media masa para tokoh politik sudah mulai sibuk “mengiklankan” diri dan partai mereka. Dengan memanfaatkan berbagai momen penting yang ada, mereka coba menarik perhatian masyarakat melalui himbauan-himbauan, isu-isu moral, dan beragam bentuk kemasan lainnya.
Media promosi seperti spanduk dan baliho pun sepertinya jadi pilhan menarik untuk lebih mengenalkan dan mendekatkan diri kepada masyarakat. Memang cara ini punya kelebihan dibanding iklan di media masa. Spanduk dan Baliho lebih murah dan bisa bertahan lebih lama. Tetapi daya jangkaunya tentu sangat terbatas dibanding promosi lewat media seperti televisi dan media cetak lainnya.
Melalui marketing politik tokoh dan partai politik ingin mendapatkan citra tertentu dari publik. Kalau core promosinya adalah isu-isu tentang kemiskinan maka dia berharap citra yang melekat pada dirinya adalah sebagai tokoh atau partai pembela kaum miskin dan rakyat jelata. Jika promosi politiknya konsisten dengan persoalan pendidikan dan intelektualitas, maka harapannya melekat pada mereka citra sebagai tokoh atau partai yang peduli dengan pendidikan. Begitu seterusnya produk dan partai politik akan mendapatkan citra tertentu dari masyarakat tergantung kepada core dan konsistensi mereka terhadap isu-isu yang diusung.
Apapun bentuk dan cara mempopulerkan diri yang marak dilakukan belakangan ini, tujuannya relatif sama, yaitu popularitas. Bagamana saat dijual, masyarakat mau membeli “produk” mereka. Seperti yang pernah penulis sampaikan juga dalam tulisan terdahulu, bahwa saat ini, popularitas adalah faktor dominan dalam menentukan derajat keterpilihan (elektabilitas) tokoh atau partai pada suatu “kompetisi” politik.
Belajar dari kasus Long Beach dan Mezzo diatas, gap antara citra yang dibangun dengan nilai produk politik yang diperoleh masyarakat sangat mungkin terjadi. Masyarakat bisa “terbeli kucing dalam karung”. Bagaimana tidak, dengan proses marketing, tokoh karbitan sangat mudah muncul dan populer. Beruntung kalau yang “terbeli” adalah produk bagus, jika tidak tentu rugilah “pembeli”.
Dalam ilmu pemasaran ada yang dikenal dengan sebutan pembeli emosional. Perumpamaannya kurang lebih begini; suatu ketika saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Dari rumah niat saya adalah membeli kemeja. Setelah berkeliling mencari mana kemeja yang pas dan sesuai dengan selera, kemudian mata saya tertuju kepada satu kemeja dengan merek “Jibun”. Melihat “Jibun” Saya teringat kalau merek tersebut sering terlihat di iklan-iklan. Model yang dipakai untuk promosinya-pun adalah model top di negeri ini. Tanpa berfikir panjang saya langsung mengambil “Jibun” dan membelinya. Walau sebelumnya saya tidak memiliki informasi yang lengkap tentang “Jibun”, baik asal-muasal apalagi kualitasnya. Konsekuensi keputusan pembelian yang saya lakukan adalah, bila kualitasnya baik karena sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, maka saya beruntung. Akan tetapi sebuah keputusan yang salah apabila yang saya beli adalah produk tidak bagus.
Memang, para pembeli emosional-lah yang kebanyakan membeli “Jibun”. Loyalis produk tertentu tidak akan membelinya karena mereka percaya terhadap produk yang biasa mereka gunakan. Mereka sangat mengenali profil dan kualitas apa yang dibeli.
Dalam dunia politikpun seperti itu. Hanya pemilih emosional saja lah yang akan memilih “Jibun Politik”. Sebab pemilih yang sudah masuk kepada segmen loyalis tokoh dan partai tertentu sulit direbut. Loyalitas pemilih tercipta karena mereka akrab dengan kualitas dan profil pilihan mereka.
Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin simpulkan apa yang di sampaikan Arbi Sanit (detik.com-24 Mei 2008), bahwa sebaiknya masyarakat mengenali dulu profil tokoh dan partai politik yang akan dipilih pada setiap pemilihan, baik dalam Pemilu Legislatif atau Pemillihan Langsung Eksekutif. Kesalahan dalam menentukan pilihan, berarti kekeliruan dalam menentukan nasib kedepan. Masyarakat jangan terlalu percaya dengan slogan dan janji yang disampaikan melalui iklan politik, karena bisa saja itu menyesatkan.

Foto Wisata HMI Komisariat FE Unand Ke Alahan Panjang















Travelling


Bersama kawan-kawan HMI Komisariat Ekonomi Unand saat berwisata ke Kebun Teh PTPN VI di kabuaten Solok