Sabtu, 07 Juni 2008

Kilas

ZAINAB binti JAHSY -radhiallaahu 'anha-
Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya'mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra', namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.
Tatkala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, "Aku rela Zaid menjadi suamimu". Maka Zainab berkata: "Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya. Maka turunlah firman Allah (artinya): "Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". (Al-Ahzab:36).
Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta'at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.
Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.
Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: "Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah".
Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar'i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya. Maka Allah 'Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: "Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi". (Al-Ahzab:37).
Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan 'Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:"Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?", Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.
Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu 'anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:"Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas 'Arsy-Nya". Dan dalam riwayat lain,"Allah telah menikahkanku di langit". Dalam riwayat lain,"Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh". Dan dalam sebagian riwayat lain,"Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh".
Zainab radliallâhu 'anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah 'Aisyah radliallâhu 'anha tatkala berkata:"Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah 'Azza wa Jalla".
Beliau radliallâhu 'anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala 'Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:"Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda". Kemudian beliau berkata: "Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: 'Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…' ".
Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.
Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi'. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya. [ Dimurâja'ah pada hari Sabtu, 03/01/1423 = 16/03/2002 ]

Jumat, 06 Juni 2008

Bersama Dr. Ir. H. Akbar Tandjung



Bersama Akbar Tandjung sesaat setelah diskusi tentang 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada kesempatan tersebut Bang Akbar menyampaikan niatnya untuk berpartisipasi pada Pemilihan Presiden 2009 nanti.
Bang Akbar juga menyatakan kerisauannya terhadap eksistensi Partai Golkar saat ini. Beliau mempertanyakan "mimpi" P.Golkar meraup 30 % suara pada Pemilihan Umum yang akan datang.
AT menilai PG tengah mengalami krisis serius. Indikatornya, bertumbangannya kandidat yang diusung PG pada berbagai Pilkada baik tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota.

Senin, 26 Mei 2008

Opini

Iklan Politik, Kamuflase atau Proses Pengenalan ?
Oleh: Epaldi Bahar
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Andalas


Pembaca mungkin masih ingat dengan iklan produk rokok Long Beach yang sempat saban hari menghiasi layar kaca kita beberapa tahun silam. Dalam iklan tersebut digambarkan seorang pria seakan-akan tengah melayang di “surga” menikmati pijitan perempuan cantik di hamparan pasir putih yang indah. Iklan tersebut semakin sempurna dengan dukungan jingle yang terdengar pas di telinga. Melalui kemasan iklan seperti itu, produsen berpesan kepada calon konsumennya bahwa dengan mengkonsumsi Long Beach, para perokok akan mendapatkan kenikmatan luar biasa.
Contoh lain yang masih segar dalam imajinasi kita adalah iklan rokok Mezzo, produk grup Djarum. Di iklan itu kita menyaksikan sepasang manusia berseragam putih terbang berlarian melompati lobang (hambatan-rintangan) keriangan. Pesan yang dapat diambil dari iklan tersebut adalah bahwa dengan menghisap rokok Mezzo konsumen akan merasa bebas. Bebas dari kesulitan dan rintangan. Bebas dari berbagai masalah dan persoalan.
Memang, Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran. Dengan cara itu produsen mencoba memperkenalkan profil produknya ke masyarakat. Melalui iklan idealnya disampaikan bagaimana postur dan nilai produk yang akan didapat konsumen.
Komunikasi pemasaran juga salah satu dimensi dalam membangun citra merek produk, bahkan citra perusahaan. Citra yang baik mendorong terbentuknya kepercayaan masyarakat untuk menggunakan produk tertentu. Kalau sudah berhasil merebut hati masyarakat, logikanya akan berdampak terhadap peningkatan angka penjualan dan kalkulasi rupiah yang diperoleh.
Akan tetapi laba tentu bukanlah tujuan akhir perusahaan. Yang diharapkan perusahaan adalah loyalitas konsumen. Loyalitas akan didapat bilamana harapan konsumen terpenuhi. Untuk itu perlu keselarasan antara citra yang dibangun dengan kualitas produk yang ditawarkan.
Pertanyaannya, efektifkah iklan produk rokok Long Beach dan Mezzo meraup kepercayaan konsumen?. Hasil amatan penulis dan mungkin amatan kita semua, kedua merek rokok diatas ternyata gagal di pasaran. Apa kira-kira faktor penyebab kegagalannya ?.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, iklan memberikan kontribusi bagi terbentuknya citra merek (Brand Image). Citra merek merupakan persepsi baik-buruk masyarakat atas produk tertentu. Pada kasus Long Beach dan Mezzo, penulis berpendapat terdapat jurang (gap) antara citra yang dibangun melalui iklan dengan nilai produk yang didapat konsumen. Akibatnya konsumen kecewa dan produk gagal berkembang di pasar.
Dalam tulisan berjudul Marketing Politik yang dimuat Harian Singgalang tanggal 16 April lalu, penulis menyampaikan bahwa dewasa ini ilmu marketing kian diperlukan dalam komunikasi politik sebagai metoda pengenalan produk politik kepada masyarakat. Roh dari marketing politik adalah upaya pembentukan citra produk politik guna mendapatkan kepercayaan publik. Kepercayaan publik lahir apabila ada keselarasan antara citra produk politik yang dibangun melalui marketing politik dengan tingkat kepuasan masyarakat atas produk politik yang ditawarkan.
Menjelang pemilihan umum 2009 tahun depan, aktivitas marketing politik semakin marak saja kita saksikan. Di berbagai media masa para tokoh politik sudah mulai sibuk “mengiklankan” diri dan partai mereka. Dengan memanfaatkan berbagai momen penting yang ada, mereka coba menarik perhatian masyarakat melalui himbauan-himbauan, isu-isu moral, dan beragam bentuk kemasan lainnya.
Media promosi seperti spanduk dan baliho pun sepertinya jadi pilhan menarik untuk lebih mengenalkan dan mendekatkan diri kepada masyarakat. Memang cara ini punya kelebihan dibanding iklan di media masa. Spanduk dan Baliho lebih murah dan bisa bertahan lebih lama. Tetapi daya jangkaunya tentu sangat terbatas dibanding promosi lewat media seperti televisi dan media cetak lainnya.
Melalui marketing politik tokoh dan partai politik ingin mendapatkan citra tertentu dari publik. Kalau core promosinya adalah isu-isu tentang kemiskinan maka dia berharap citra yang melekat pada dirinya adalah sebagai tokoh atau partai pembela kaum miskin dan rakyat jelata. Jika promosi politiknya konsisten dengan persoalan pendidikan dan intelektualitas, maka harapannya melekat pada mereka citra sebagai tokoh atau partai yang peduli dengan pendidikan. Begitu seterusnya produk dan partai politik akan mendapatkan citra tertentu dari masyarakat tergantung kepada core dan konsistensi mereka terhadap isu-isu yang diusung.
Apapun bentuk dan cara mempopulerkan diri yang marak dilakukan belakangan ini, tujuannya relatif sama, yaitu popularitas. Bagamana saat dijual, masyarakat mau membeli “produk” mereka. Seperti yang pernah penulis sampaikan juga dalam tulisan terdahulu, bahwa saat ini, popularitas adalah faktor dominan dalam menentukan derajat keterpilihan (elektabilitas) tokoh atau partai pada suatu “kompetisi” politik.
Belajar dari kasus Long Beach dan Mezzo diatas, gap antara citra yang dibangun dengan nilai produk politik yang diperoleh masyarakat sangat mungkin terjadi. Masyarakat bisa “terbeli kucing dalam karung”. Bagaimana tidak, dengan proses marketing, tokoh karbitan sangat mudah muncul dan populer. Beruntung kalau yang “terbeli” adalah produk bagus, jika tidak tentu rugilah “pembeli”.
Dalam ilmu pemasaran ada yang dikenal dengan sebutan pembeli emosional. Perumpamaannya kurang lebih begini; suatu ketika saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Dari rumah niat saya adalah membeli kemeja. Setelah berkeliling mencari mana kemeja yang pas dan sesuai dengan selera, kemudian mata saya tertuju kepada satu kemeja dengan merek “Jibun”. Melihat “Jibun” Saya teringat kalau merek tersebut sering terlihat di iklan-iklan. Model yang dipakai untuk promosinya-pun adalah model top di negeri ini. Tanpa berfikir panjang saya langsung mengambil “Jibun” dan membelinya. Walau sebelumnya saya tidak memiliki informasi yang lengkap tentang “Jibun”, baik asal-muasal apalagi kualitasnya. Konsekuensi keputusan pembelian yang saya lakukan adalah, bila kualitasnya baik karena sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, maka saya beruntung. Akan tetapi sebuah keputusan yang salah apabila yang saya beli adalah produk tidak bagus.
Memang, para pembeli emosional-lah yang kebanyakan membeli “Jibun”. Loyalis produk tertentu tidak akan membelinya karena mereka percaya terhadap produk yang biasa mereka gunakan. Mereka sangat mengenali profil dan kualitas apa yang dibeli.
Dalam dunia politikpun seperti itu. Hanya pemilih emosional saja lah yang akan memilih “Jibun Politik”. Sebab pemilih yang sudah masuk kepada segmen loyalis tokoh dan partai tertentu sulit direbut. Loyalitas pemilih tercipta karena mereka akrab dengan kualitas dan profil pilihan mereka.
Sebagai penutup tulisan ini, penulis ingin simpulkan apa yang di sampaikan Arbi Sanit (detik.com-24 Mei 2008), bahwa sebaiknya masyarakat mengenali dulu profil tokoh dan partai politik yang akan dipilih pada setiap pemilihan, baik dalam Pemilu Legislatif atau Pemillihan Langsung Eksekutif. Kesalahan dalam menentukan pilihan, berarti kekeliruan dalam menentukan nasib kedepan. Masyarakat jangan terlalu percaya dengan slogan dan janji yang disampaikan melalui iklan politik, karena bisa saja itu menyesatkan.
.







Ke Mana Anda Mau Berakhir Pekan ?



Bagi Anda yang butuh tempat mengasyikkan guna melepas lelah setelah seminggu berjibaku dengan kerjaan Anda, maka Jembatan Akar bisa menjadi tempat berwisata yang tepat. Jembatan Akar terletak di Nagari Puluik-Puliuk Kecamatan Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan, sekitar 70 km dari kota Padang. Menuju ke sana menghabiskan sekitar 2 jam perjalanan.
Dikatakan Jembatan Akar karena memang Jembatan ini terbuat dari jalinan akar pepohonan yang tumbuh di tepi sungai. Jembatan ini menghungkan dua Kampung dipisahkan oleh aliran Batang Bayang yang berhulu di Danau Atas kabupaten Solok.
Selain bisa menikmati sejuknya hawa pegunungan Bukit Barisan, Bagi anda yang hobi olah raga Arung Jeram, sungai yang mengalir di sini punya tantangan tersendiri tentunya. Atau bagi pengunjung yang pengen merasakan dinginnya air sungai ini, bermandi ria pun menjadi pilihan yang tepat pula. Selamat Berkunjung

Salam Kenal, Selamat Berkunjung Di Blog Saya

Melalui blog ini saya ingin "bercengkrama" dengan siapa saja yang bersedia meluangkan waktunya. Saya sangat senang bila pengunjung becerita tentang berbagai persoalan yang etis kita bicarakan. Demi sempurnanya blog ini saya berharap kritik dan masukan Anda semuanya. Terima Kasih..